Review Novel : Cinderella Pesantren















Harusnya tak kulakukan hal ini
Harusnya tak boleh aku sedekat ini dengannya
Harusnya kubiarkan saja ia basah terkena hujan
Tapi ada apa dengan diriku?
Kenapa tak ingin sekalipun aku melepas lengan perempuan ini? 
Padahal aku tahu ini dosa
Kenapa tak ingin sekalipun aku menghindarinya? 
Walau aku sudah berusaha keras mengendalikannya
Jika benar ini karena hasutan syetan
Maka aku bersedia menanggung dosanya pula
Ya Allah ...
Sungguh ... 
Jika ia telah halal bagiku
Maka takkan sekalipun ia kulepas dari pelukanku
Karena saat ini pun ... 
Aku berusaha sekuat tenaga agar tidak memeluknya

_Gus Fahmi_

Masih belum bisa move on dari penggalan kisah Gus Fahmi dan Ana dalam novel Cinderella Pesantren. Kisah cinta remaja yang disuguhkan dengan apik, tanpa mengesampingkan syariat-syariat islam.

Gus Fahmi sebagai tokoh utama, sangat menjaga rasanya tetap utuh karena Allah SWT, sang pemilik hati sesungguhnya.

Entahlah ... ini selera atau bagaimana. Namun, yang benar adalah apa yang ditulis di setiap diksinya sangat mengena. Bahasanya yang ringan terkesan tidak menggurui pembaca.

Pemilihan katanya tidak muluk-muluk, sangat sederhana seperti yang ada di kehidupan sehari-hari. Namun karena sederhananya inilah, Cinderella Pesantren menjadi sangat istimewa.

Beberapa hukum islam dijelaskan secara detail dan gamblang, bahkan langsung disertai contohnya pada kehidupan sehari-hari.

Hal kecil yang pertama kali aku temukan adalah kepemahamanku tentang hubungan antara sepupu. Bahwa keduanya adalah bukan mahram, artinya bisa menikah. Begitupun bahwa saudara sepersusuan itu bisa dikatakan seperti kakak-adik kandung.
 
Selain itu, hukum lainnya seperti khalwat dan khitbah juga diberikan contohnya langsung sehingga pembaca tidak meraba-raba bagaimana penerapannya pada kehidupan nyata.

Banyak hal yang dapat dipetik dari buku dengan tebal 532 halaman ini. Tidak melulu tentang edukasi ilmu keagamaan saja, tapi juga solidaritas, etika, dan kemanusiaan.

Karakter tokohnya sangat manusiawi. Tidak ada yang seratus persen sempurna. Baik tokoh utama maupun tokoh penghibur digambarkan dengan porsi manusiawi yang pas. Contohnya Gus Azmi, berilmu tinggi tapi juga bisa mengekspresikan emosi yang meluap-luap. Gus Fahmi, sebagai tokoh sentral juga sangat berhati-hati, bahkan banyak pertimbangan ketika memutuskan sesuatu.

Cemburu dan bumbu-bumbu cinta lainnya, juga diselipkan sebagai wujud karakter manusiawi tokoh-tokohnya.

Jangan tanya alurnya bagaimana, jelas tidak bisa ditebak. Ending ceritanya benar-benar indah, bahkan sampai membatin, 'kok bisa ya, kok bisa ya?' Sama sekali tidak pernah terbesit di pikiran pembaca, sepertiku.

Banyak kejutan-kejutan yang disajikan penulis, yang kadang tidak bisa dinalar. Ketika Allah sudah berkehendak, maka "kun fayakun", tidak ada hal yang tidak mungkin. Apalagi jika kita berbicara tentang hati, bukankah kita harus memintanya kepada sang pemilik hati.

Bagaimana perjuangan Ana untuk menjadi lebih baik, memantaskan dirinya untuk bersanding dengan pria yang pantas untuknya. Proses inilah yang kadang luput dari seorang wanita pada umumnya.

Tidak sedikit wanita yang sudah dikhitbah oleh orang lain, justru merasa dirinya sempurna dan baik, karena merasa menjadi wanita terpilih.

Hal yang tidak bisa terlupakan dalam novel ini ada di bab tujuh, ketika Ana menceritakan kepada Lina, ingatannya pada Kak Bagus tentang surat Ar-Rohman. "Bacalah Ar-Rohman saat kamu merindukan seseorang, maka insyaallah rindu itu pasti akan tersampaikan, karena Allah maha membolak-balikkan hati manusia."

Kalau boleh jujur, sebagai pembaca pengennya Ana berjodoh dengan Kak Bagus, hehehe.

Kepasrahan, kesabaran, ketawakalan, dan keimanan menjadi hal yang paling mendominasi Cinderella Pesantren.

Terimakasih Bunda Laily Shofaria, sudah menghadirkan wajah pondok pesantren dengan sangat baik. Membuat pembaca mampu menikmati, dan membayangkan menjadi santri kala membaca novel ini.

Kekurangannya cuma satu, tulisannya di novel kecil-kecil. Untuk pembaca yang punya mata minus dan silinder kayak aku, perlu usaha yang ekstra, hehehe. Tapi kalau dibuat lebih besar, jumlah halaman mungkin bisa mencapai 700an.

Semoga "Maaf" sebagai judul sekuel Cinderella Pesantren lahir dengan gangsar pertengahan tahun 2020 ini. Semangat menginspirasi dan senantiasa sukses.

Comments

  1. Keren mbk indah, kalo mau baca novel tinggal njujug sini aja😄

    ReplyDelete
  2. MasyaAllah ..
    Bener2 gak bisa berkata2 lagi ..

    🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰

    ReplyDelete
  3. Superrr sekali, ulasan yg pas dan pastinya membuat yg baca akan penasaran utk memiliki novel aslinya, #Luve😍

    ReplyDelete
  4. Masya Allah keren bangettt😍😍👍

    ReplyDelete
  5. Dari awal baca cerita ini saya sangat tertarik, bahasanya yg menurut saya sangat sopan menggambarkan bagaimana seharusnya kita menyikapi semua hal. Banyak pelajaran yg saya dapat. Bukan hanya menikmati sebuah cerita, namun saya bisa memetik sebuah pelajaran dari setiap cerita yg saya baca. Makanya saya selalu menunggu mbk shofaria share di FB. Terimaksih kak. Ceritanya tidak membuat saya bosan.

    ReplyDelete
  6. Jd pengen mondok biar tahu jaran Islam lebih dalam lagi, untuk Gus Fahmi dan ana kalian inspiratif,,,

    ReplyDelete
  7. Masyaaallah, Tabarakallah��

    wes ga banyak² Komennya��

    Sungguh terlalu indah������

    ReplyDelete
  8. Masyaallah, Tabarakallah

    Speechless pokokmen 😍😍❤❤

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Bosan saat LDR? Sudah nggak jaman, dong. Simak tipsnya